21 Rider Jelajahi Sukabumi, MRC No One Knows Berlabuh di Pelabuhanratu

Sumber: Jihan Ibnu, Ketua Manja Rider Community (MRC).

SUKABUMIbidikhukumnews.com
Manja Rider Community (MRC) menggelar perjalanan touring bertajuk “MRC No One Knows” pada 18–20 September 2026. Kegiatan yang diikuti 21 peserta ini menjadi perjalanan lintas wilayah yang memadukan petualangan, wisata alam, perjumpaan dengan budaya lokal, kuliner, serta kebersamaan antarpeserta.

Rombongan yang dipimpin Ketua Manja Rider Community, Jihan Ibnu, berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Depok. Mereka memulai perjalanan dari Cibinong, kemudian bergerak menuju Bogor Barat hingga kawasan Kasepuhan Gelar Alam, Kabupaten Sukabumi.

Bagi MRC, perjalanan tersebut bukan sekadar aktivitas touring menggunakan sepeda motor. Sejumlah pengalaman di sepanjang rute justru menjadi bagian penting dari perjalanan, mulai dari menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu, melintasi jembatan gantung, menikmati kuliner lokal, hingga berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat di kawasan yang disinggahi.

Menyeberang dengan Rakit Bambu hingga Kasepuhan Gelar Alam

Salah satu pengalaman yang menarik perhatian dalam perjalanan MRC adalah ketika sejumlah sepeda motor harus diseberangkan menggunakan rakit bambu.

Motor-motor peserta berjajar di atas rakit, sementara perjalanan untuk sementara tidak lagi bergantung pada kecepatan kendaraan. Rombongan harus mengikuti ritme penyeberangan sebelum kembali melanjutkan perjalanan melalui jalan kampung, jembatan gantung, serta jalur dengan medan yang cukup menantang.

Konsep perjalanan tersebut sejalan dengan nama “No One Knows”, yang menggambarkan perjalanan dengan sejumlah rute dan pengalaman yang tidak seluruhnya diketahui peserta sejak awal.

Namun, di balik unsur kejutan tersebut, tujuan perjalanan tetap jelas, yakni mempererat hubungan antarpeserta sekaligus mengenal berbagai potensi wisata dan kehidupan masyarakat yang ditemui sepanjang perjalanan.

Ketika berada di kawasan masyarakat adat, peserta juga diingatkan untuk menghormati tata kehidupan setempat. Etika seperti meminta izin sebelum mengambil gambar, menghormati ruang yang memiliki batasan, serta mengikuti arahan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata yang bertanggung jawab.

Dari Pegunungan Menuju Pelabuhanratu

Setelah menyelesaikan perjalanan di kawasan pegunungan dan kasepuhan, rombongan kemudian bergerak menuju wilayah Pelabuhanratu melalui Cipta Mulya dan Sinaresmi.

Perjalanan tersebut memperlihatkan karakter Sukabumi yang beragam, mulai dari kawasan pegunungan dan perkampungan hingga wilayah pesisir selatan.

Setelah menempuh perjalanan panjang, Bunga Ayu Seaside Resort di Pelabuhanratu menjadi lokasi rombongan untuk beristirahat dan melanjutkan agenda kebersamaan.

Menurut Jihan Ibnu, rombongan MRC disambut oleh manajemen resort yang akrab disapa Opunk. Untuk kebutuhan akomodasi, rombongan memesan dua vila dan tiga kamar.

Pilihan akomodasi tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta untuk berkumpul dan melepas lelah setelah menjalani perjalanan dengan medan yang beragam.

Makan Malam dan Kebersamaan di Bunga Ayu

Pada malam hari, peserta menikmati sejumlah hidangan, di antaranya kambing guling, ikan blue marlin, dan cumi berukuran jumbo.

Makan malam kemudian dilanjutkan dengan kegiatan santai, berbagi cerita, acara bebas, serta karaoke. Suasana tersebut menjadi bagian dari perjalanan MRC untuk memperkuat kebersamaan setelah menempuh perjalanan panjang.

Jihan menyampaikan bahwa pengalaman menginap di Bunga Ayu Seaside Resort menjadi salah satu bagian yang berkesan bagi rombongan.

Menurutnya, pelayanan yang ramah, fasilitas, serta lokasi resort yang berada di kawasan pesisir menjadi pertimbangan bagi komunitas touring dalam menentukan tempat beristirahat.

“Bunga Ayu Seaside Resort memberikan pelayanan yang prima dan ramah, fasilitas terbaik serta memiliki pemandangan eksklusif di bibir pantai. Lokasinya juga strategis di tengah Kota Pelabuhanratu sehingga akses menjadi salah satu pertimbangan bagi wisatawan,” ujar Jihan.

Menutup Perjalanan di Pantai Selatan

Pada Minggu pagi, 20 September 2026, peserta menikmati sarapan di restoran resort sebelum turun menuju kawasan pantai melalui akses yang tersedia dari resort.

Setelah sebelumnya menjelajahi kawasan kampung, pegunungan, dan kasepuhan, suasana pesisir selatan yang menghadap Samudra Hindia menjadi bagian berbeda sekaligus penutup dari rangkaian perjalanan.

Bagi perjalanan komunitas maupun keluarga, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tempat menginap dapat menjadi bagian dari rangkaian perjalanan, bukan hanya sekadar persinggahan untuk tidur.

Kebutuhan akomodasi, konsumsi kelompok, maupun penggunaan ruang kegiatan tentunya perlu disesuaikan dan dikoordinasikan dengan pengelola berdasarkan jumlah peserta dan waktu kunjungan.

Membawa Cerita Pulang Melalui Cikidang

Sebelum meninggalkan Pelabuhanratu, rombongan MRC mengabadikan kebersamaan di depan resort. Selanjutnya, mereka menempuh rute Pelabuhanratu–Cikidang–Parungkuda–Caringin–Bogor sebelum akhirnya berpisah menuju daerah tempat tinggal masing-masing.

Dalam perjalanan pulang, rombongan juga melewati kawasan Jembatan Gantung Cibeuteung Muara.

Rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Sukabumi tidak hanya dapat dinikmati sebagai satu titik destinasi. Wilayah ini menawarkan perjalanan yang mempertemukan bentang alam, kehidupan masyarakat, budaya, kuliner, hingga akomodasi di kawasan pesisir.

Bagi pelaku perjalanan, setiap persinggahan memberikan pengalaman tersendiri. Pada saat yang sama, aktivitas wisata komunitas juga dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal melalui konsumsi, akomodasi, serta layanan yang digunakan selama perjalanan.

Jihan Ibnu menilai perjalanan jauh dengan medan yang tidak selalu mudah dapat menjadi ruang untuk melihat arti sebuah persahabatan.

“Perjalanan yang jauh dan medan yang sukar adalah cermin terbaik untuk memantulkan kepribadian dan ketulusan seorang teman yang sesungguhnya,” ungkap Jihan.

Nama perjalanan boleh saja “No One Knows”. Namun, setelah tiga hari perjalanan, MRC membawa pulang cerita tentang tempat-tempat yang mereka singgahi, pengalaman baru, serta semangat untuk menjaga persaudaraan di antara anggota komunitas.

“MRC, Huuuu Haaaa!!! Gaspolll, Tetap Satu Saudara!!!” pungkas Jihan.

Red