”Bang Alex Targetkan Syuting Perdana Film Total Lokal Sultra Dimulai Akhir Juli 2026″
Industri kreatif di Sulawesi Tenggara bersiap menorehkan sejarah baru. Sebuah proyek film layar lebar yang digarap sepenuhnya oleh sineas dan talenta lokal kini telah memasuki tahap akhir pra-produksi. Jika tidak ada aral melintang, proses pengambilan gambar (shooting) perdana dijadwalkan mulai bergulir pada akhir Juli 2026.
Proyek ambisius ini diinisiasi oleh Pobende Wonua Sultra yang dikomandoi oleh Alex Pangaibali, S.Th., S.H. Pria yang akrab disapa Bang Alex ini—dan juga menjabat sebagai Ketua Umum Garuda Indonesia—mengungkapkan bahwa seluruh persiapan teknis maupun non-teknis berjalan sesuai rencana, termasuk rampungnya tahapan seleksi pemeran.
”Sampai sekarang progresnya sangat bagus. Pemain-pemain yang lolos seleksi luar biasa semua. Mereka memiliki potensi besar dan akan ditempatkan sesuai dengan karakter masing-masing untuk menghidupkan cerita,” ujar Alex saat ditemui di Kendari, akhir pekan ini.
Satu hal yang menjadi pembeda utama sekaligus daya tarik dari proyek ini adalah komitmennya untuk memberdayakan potensi daerah secara total. Berbeda dengan tren produksi nasional yang kerap memboyong figur publik dari Ibu Kota, film ini sepenuhnya mengandalkan sumber daya manusia (SDM) dari Bumi Anoa.
”Ini adalah film lokal pertama yang melibatkan warga lokal sepenuhnya sebagai pemeran. Tidak ada bintang yang didatangkan dari Jakarta. Semua murni dari Sultra, begitu pula dengan seluruh krunya. Itulah pembeda utamanya,” kata Alex menegaskan.
Bagi Alex, proyek ini bukan sekadar media hiburan, melainkan sebuah gerakan kebudayaan. Rekam jejaknya di industri perfilman nasional sebenarnya tidak meragukan ia telah menelurkan tiga karya film di Jakarta. Namun, kembali ke daerah dan mengangkat kekayaan lokal memberikan kepuasan filosofis tersendiri.
Melalui sinema, Alex berambisi mengeksplorasi dan mendokumentasikan kearifan lokal secara masif. “Potensi di Sultra ini sangat banyak. Kami ingin mengangkat adat, budaya, kuliner, hingga destinasi wisata. Setiap daerah memiliki kekuatan unik yang layak ditampilkan,” tuturnya.
Pematangan Rencana dan Kolaborasi Antarwilayah
Menjelang bergulirnya kamera, tim produksi dijadwalkan menggelar pertemuan final dan doa bersama pada 25 Juli 2026 di OT Coffee. Agenda ini sekaligus menjadi konsolidasi akhir untuk mematangkan persiapan kostum, artistik, dan pemetaan lokasi sebelum hari pertama syuting di akhir bulan.
Untuk fase awal, fokus pengambilan gambar akan berpusat di sejumlah titik di Sultra dengan memanfaatkan dukungan properti dari masyarakat, termasuk rumah-rumah warga lokal yang dialokasikan sebagai set produksi.
Skala produksi dipastikan meluas. Setelah merampungkan fase awal, tim akan bergerak ke beberapa wilayah strategis seperti Raha (Muna), Buton, Kolaka Timur (Koltim), dan Konawe. Skema perekrutan lokal tetap dipertahankan di tiap wilayah, di mana tokoh-tokoh pendukung akan diisi oleh talenta dari kabupaten/kota setempat. Mereka akan beradu peran dengan dua tokoh utama cerita, yakni Rika dan Risal.
Harapan Dukungan dari Stakeholder
Sebagai pionir gerakan sinema independen berbasis daerah, Alex menyadari pentingnya sinergi dengan pemangku kebijakan. Ia berharap Pemerintah Provinsi Sultra di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sumangerukka, serta para bupati dan wali kota, dapat memberikan atensi dan dukungan nyata terhadap proyek ini.
”Harapan saya, pemerintah daerah berkenan memberikan dukungan (support). Dukungan itu tidak selalu harus dalam bentuk anggaran atau uang, tetapi bisa berupa kemudahan akses fasilitas atau perizinan yang dapat meringankan biaya produksi kami,” pungkas Alex.
Langkah berani ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri perfilman di Sulawesi Tenggara. Melalui lensa kamera sineas lokal, kekayaan adat dan pesona wisata Sultra bersiap untuk beralih rupa menjadi narasi visual yang mampu bersaing di panggung sinema nasional.
Reporter: Kaperwil Sultra-Mulyadi Ansan








