Hadapi Kemarau Panjang, Solusi Bangun Indonesia Perkuat Efisiensi dan Konservasi Air

NAROGONGbidikhukumnews.com
Menghadapi potensi kemarau yang lebih kering dan berkepanjangan, pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu perhatian penting bagi dunia industri. Kondisi atmosfer yang cenderung kering di sejumlah wilayah Indonesia mendorong perusahaan untuk memperkuat strategi efisiensi dan mencari sumber air alternatif guna menjaga keberlangsungan kegiatan operasional.

Situasi tersebut menjadi semakin relevan di tengah pengaruh fenomena El Niño yang diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027. Berdasarkan analisis dan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Di tengah tantangan itu, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk terus mengembangkan berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap air baku. Strateginya mencakup efisiensi penggunaan air, pemanfaatan kembali air dari proses operasional, pengembangan sumber air alternatif hingga penerapan teknologi untuk meningkatkan efektivitas distribusi air.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Perusahaan dalam menjalankan Target Keberlanjutan 2030. Solusi Bangun Indonesia sebelumnya menetapkan target pengurangan pengambilan air baku sebesar 10 persen dibandingkan baseline 2019.

Namun, capaian hingga 2025 menunjukkan hasil yang telah melampaui target tersebut. Perusahaan mencatat pengurangan pengambilan air baku sebesar 45 persen dibandingkan baseline 2019.

Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, mengatakan perubahan pola iklim menuntut sektor industri untuk semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air.

“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi Sarwono.

Pengambilan Air Baku Terus Ditekan

Komitmen tersebut tercermin dalam perubahan komposisi penggunaan air di berbagai wilayah operasi perusahaan.

Mengacu pada Laporan Keberlanjutan 2025, total pengambilan air baku Solusi Bangun Indonesia turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025.

Penurunan juga terlihat pada pemanfaatan sumber air permukaan. Pengambilan air permukaan berkurang sekitar 18 persen, dari 841 megaliter pada 2024 menjadi 688 megaliter pada 2025.

Penggunaan air tanah turut ditekan sekitar 11 persen, dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter. Sementara itu, pemanfaatan air hujan justru mengalami peningkatan sekitar 9 persen, dari 676 megaliter pada 2024 menjadi 734 megaliter pada 2025.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran pendekatan dalam pengelolaan air, dari ketergantungan terhadap sumber air konvensional menuju optimalisasi sumber alternatif dan penggunaan kembali air.

Recycled Water Capai 563 Megaliter

Selain menekan pengambilan air baku, Solusi Bangun Indonesia juga meningkatkan pemanfaatan recycled water dalam kegiatan produksi.

Pada 2025, empat pabrik semen milik perusahaan memanfaatkan sekitar 563 megaliter recycled water yang berasal dari proses produksi. Volume tersebut setara dengan 31,7 persen dari total pengambilan air dan meningkat sekitar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemanfaatan air hasil daur ulang menjadi salah satu strategi penting dalam mengurangi kebutuhan terhadap sumber air baru sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya di lingkungan industri.

Inovasi Pengolahan Air di Pabrik Narogong

Langkah efisiensi juga diterapkan secara langsung di Pabrik Narogong, Jawa Barat.

Di fasilitas tersebut, Solusi Bangun Indonesia mengembangkan inovasi pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terintegrasi. Optimalisasi dilakukan melalui proses koagulasi dan sedimentasi untuk meningkatkan efektivitas pengolahan air limbah.

Melalui inovasi tersebut, kualitas air hasil pengolahan menjadi lebih stabil sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan kembali bagi kebutuhan operasional.

Dalam periode Januari hingga Juni 2026, tercatat sebanyak 17.477 meter kubik air hasil pengolahan berhasil dimanfaatkan kembali. Air tersebut menggantikan sebagian kebutuhan air tanah dan air sungai untuk mendukung kegiatan operasional pabrik.

Teknologi IoT Optimalkan Distribusi Air

Tidak hanya melalui pengolahan dan penggunaan kembali air, perusahaan juga memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi distribusi.

Di Pabrik Narogong, penerapan Programmable Logic Controller (PLC) dan Internet of Things (IoT) digunakan dalam sistem River Pump Management. Teknologi tersebut memungkinkan pengaturan distribusi air dilakukan secara lebih terukur dan presisi sesuai kebutuhan operasional.

Penerapan sistem tersebut berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi air tawar yang bersumber dari sungai sebesar 82 megaliter sepanjang 2025.

Bagi perusahaan, efisiensi air tidak hanya berkaitan dengan pengurangan volume penggunaan, tetapi juga bagaimana setiap sumber air dapat dikelola secara optimal melalui teknologi, pemanfaatan kembali serta diversifikasi sumber air.

Menjaga Air untuk Operasi dan Lingkungan

Edi Sarwono menegaskan bahwa berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan operasional.

Menurutnya, ketahanan terhadap perubahan iklim membutuhkan langkah konkret dan konsisten, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air.

“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” tutup Edi Sarwono.

Dengan kombinasi efisiensi, pemanfaatan recycled water, pemanenan air hujan, pengolahan air limbah dan penerapan teknologi digital, pengelolaan air menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan Solusi Bangun Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim dan kondisi kemarau.

Red