Batik Ciprat Karya Penerima Manfaat RPSDM Waluyotomo Tembus Pasar Aceh hingga NTB
Produk batik ciprat karya penerima manfaat Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental (RPSDM) Waluyotomo Jepara berhasil menjangkau pasar hingga Aceh dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Kerajinan yang dikembangkan melalui program pembinaan keterampilan tersebut diperkenalkan kepada delegasi diplomatik saat berkunjung ke Galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jepara, Rabu (4/11/2026).
Pekerja Sosial RPSDM Waluyotomo, Dini, menjelaskan pembinaan keterampilan membatik ciprat mulai dikembangkan secara masif sejak 2022. Program yang awalnya hanya berupa bimbingan keterampilan membatik itu kemudian berkembang setelah hasil karya penerima manfaat mendapat sambutan positif dari masyarakat.
“Awalnya hanya bimbingan keterampilan biasa. Namun, ketika pertama kali pameran, ternyata banyak masyarakat yang antusias membeli, bahkan ada yang memesan,” ujar Dini saat ditemui di sela kunjungan delegasi diplomatik di Galeri Dekranasda Jepara.
Perkembangan tersebut turut mendapat dukungan hibah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah melalui program yang didanai Pemerintah Queensland, Australia.
Pemasaran produk kemudian diperluas melalui media sosial dan marketplace. Upaya tersebut membuat batik ciprat karya penerima manfaat RPSDM Waluyotomo dikenal lebih luas dan diminati pembeli dari berbagai daerah, mulai Aceh hingga NTB.
Dari sekitar 100 penerima manfaat yang berada di RPSDM Waluyotomo, sekitar 10 orang saat ini dinilai mampu mengikuti kegiatan membatik hingga tahap pengemasan. Dalam kondisi normal, produksi dapat mencapai 10–20 kain setiap pekan, bergantung pada kondisi penerima manfaat dan cuaca.
Dini mengatakan, hasil penjualan batik ciprat tidak hanya mendukung keberlanjutan kegiatan keterampilan, tetapi juga menjadi tabungan bagi penerima manfaat sebagai bekal ketika nantinya kembali ke keluarga.
“Ketika teman-teman penerima manfaat kembali ke rumah, setidaknya mereka memiliki tabungan dan keterampilan yang bisa dikembangkan,” katanya.
Meski menunjukkan perkembangan positif, kegiatan pembinaan masih menghadapi sejumlah tantangan. Konsistensi penerima manfaat dalam mengikuti kegiatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kondisi emosi dan kesiapan masing-masing peserta dapat memengaruhi kelancaran produksi.
Selain itu, proses pengeringan kain yang mengandalkan sinar matahari juga membuat produksi terkadang harus dihentikan sementara ketika musim hujan.
“Kalau musim hujan biasanya kami berhenti sementara karena prosesnya benar-benar buatan tangan dan pengeringannya mengandalkan sinar matahari,” jelasnya.
Salah seorang penerima manfaat, Andi (42), mengaku telah mengikuti kegiatan membatik ciprat sejak awal program. Selama mengikuti pelatihan, ia mendapat pendampingan dari petugas dan pembina batik untuk memahami setiap tahapan pengerjaan.
“Pelatihannya didampingi oleh petugas dan pendamping batik untuk memberikan pengarahan agar bisa membuat batik ciprat dengan kualitas yang tinggi,” ujarnya.
Dalam proses pembuatannya, kain putih terlebih dahulu dibentangkan menggunakan peniti, karet, dan kayu agar permukaannya rata. Setelah itu, malam digunakan untuk membentuk motif sesuai desain atau pesanan konsumen.
Andi menjelaskan, pengerjaan satu kain dapat membutuhkan waktu hingga sekitar satu pekan. Lama pengerjaan bergantung pada tingkat kerumitan motif dan jenis pesanan, sementara ukuran kain disesuaikan dengan permintaan pembeli.
Melalui pembinaan tersebut, batik ciprat tidak hanya menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana bagi penerima manfaat untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan rasa percaya diri, serta mempersiapkan bekal kemandirian ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Reporter: Amin Andrianto

