Kebun Raya Cibodas di Usia 174 Tahun: Revitalisasi Taman Lumut Terbesar dan Penyelamatan Dua Pohon Langka yang Terancam Punah
CIANJUR – bidikhukumnews.com
Kebun Raya Cibodas (KRC) genap berusia 174 tahun pada Senin (11/4/2026). Di tengah perayaan yang berlangsung khidmat di kaki Gunung Gede Pangrango itu, pengelola tidak sekadar memotong tumpeng dan merayakan secara seremonial. Dua langkah konkret justru menjadi soratan utama: revitalisasi total Taman Lumut terbesar di Indonesia serta penanaman dua jenis pohon langka asli hutan Jawa-Sumatra yang statusnya kini genting.
Taman Lumut yang pertama kali dibangun pada 2006 itu kini dirombak total sejak September 2025. Dengan luas mencapai 1.500 meter persegi—setara tiga lapangan bola basket kecil—taman ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang mewakili tiga kelas lumut sekaligus: lumut hati (hepaticae), lumut tanduk (anthocerotae), dan lumut daun (musci).
Hasil kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Mitra Natura Raya (MNR) berhasil mengidentifikasi secara ilmiah 35 jenis lumut di dalam taman tersebut. Sebagian besar merupakan koleksi asli dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), yang dikenal sebagai paru-paru Jawa Barat.
“Revitalisasi ini bukan hanya soal estetika. Kami menambah bebatuan penyerap kelembapan dan tanaman paku akuatik seperti Taxiphyllum barbieri serta Riccia fluitans,” ujar Marga Anggrianto, Managing Director PT MNR, di sela-sela perayaan.
Menurut Marga, material batu yang dipilih secara khusus berfungsi ekologis untuk menjaga mikrohabitat lumut tetap lembap sepanjang tahun. Sementara itu, spesies aquascape yang ditambahkan memperkaya nilai edukasi tentang evolusi tumbuhan—dari non-vaskular (lumut) menuju tumbuhan vaskular (paku dan berbiji).
Dr. Sasa Sofyan Munawar, Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, menambahkan bahwa Taman Lumut kini dirancang sebagai gerbang edukasi bagi generasi muda.
“Kami ingin pengunjung, terutama anak muda, paham bahwa lumut bukan sekadar gulma atau tanaman pengganggu. Lumut adalah penanda ekosistem yang sehat. Di tempat yang udaranya tercemar, lumut tidak akan tumbuh,” tegasnya.
Namun Sasa mengakui adanya tantangan besar. Dari total 12.945 spesimen koleksi yang dimiliki KRC, sebagian besar merupakan hasil eksplorasi dari hutan alam yang kini populasinya menurun drastis akibat alih fungsi lahan dan perubahan iklim.
Di halaman yang sama, dua bibit pohon endemik ditanam secara simbolis oleh pimpinan BRIN, PT MNR, dan perwakilan komunitas pecinta alam. Keduanya adalah Castanopsis argentea (Saninten) dan Castanopsis tungurrut (Tunggeureuk)—dua kerabat dekat dari suku Fagaceae yang buahnya mirip rambutan atau berangan.
Status kedua pohon ini masuk dalam kategori Genting (Endangered) dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Data koleksi KRC menunjukkan: Saninten hanya tersisa 40 spesimen di kebun raya ini, sementara Tunggeureuk jumlahnya lebih kritis, hanya 15 spesimen.
“Di alam, Tunggeureuk sudah sangat sulit ditemukan. Eksplorasi terakhir kami di Resort Goalpara, TNGP, pada 2023 hanya menghasilkan segelintir bibit. Itu pun setelah berhari-hari menyusuri jalur yang terjal,” ungkap Sasa dengan nada prihatin.
Penanaman ini, kata dia, merupakan bagian dari fungsi konservasi ex situ—penyimpanan dan pemeliharaan koleksi di luar habitat aslinya. Kebun raya berperan sebagai “ark habitat” terakhir sebelum suatu spesies benar-benar punah dari muka bumi.
“Jangan sampai yang ada di kebun raya ini ikut hilang. Padahal di alam, populasinya sudah tidak ada lagi. Kalau kami tidak menyelamatkan sekarang, anak cucu kita hanya bisa melihat Saninten dan Tunggeureuk dari foto,” tambahnya.
Marga Anggrianto mengakui bahwa keterbatasan lahan dan kemampuan adaptasi tanaman menjadi kendala klasik. Setiap spesies punya preferensi ketinggian tempat dan kelembapan yang berbeda. Namun, optimisme tetap ada.
“Dengan jaringan 40 kebun raya daerah yang tersebar di seluruh Indonesia, kami bisa saling tukar koleksi. Saninten yang cocok di Cibodas mungkin tidak cocok di Kebun Raya Bogor atau Purwodadi. Tapi di kebun raya lain, bisa jadi justru berkembang,” jelasnya.
Perayaan HUT ke-174 KRC mengusung tema “Harmoni Alam untuk Masa Depan”. Rangkaian acara dimeriahkan dengan bazar tanaman hias, donor darah, kelas edukasi bagi pelajar, hingga pertunjukan seni budaya Sunda. Ratusan pengunjung tampak antusias mengikuti tur keliling taman yang dipandu oleh pemandu alam BRIN.
Namun di balik kemeriahan, Dr. Sasa menyoroti satu hal yang tak kalah penting: peran publik.
“Tanaman non-koleksi bisa kami tanam untuk kebutuhan wisata. Tapi tanaman koleksi langka seperti Saninten, Tunggeureuk, dan lumut-lumut ini butuh perawatan ekstra dari semua pihak. Bukan hanya BRIN atau mitra swasta. Pengunjung juga harus ikut menjaga. Jangan memetik, jangan menginjak area yang dilarang, dan ikut menyebarkan kesadaran.”
Sejak didirikan pada tahun 1852 atas prakarsa ahli botani Belanda Johannes Elias Teijsmann, Kebun Raya Cibodas telah menjadi pusat konservasi tumbuhan dataran tinggi yang tak tertandingi di Asia Tenggara. Di usianya yang ke-174, komitmen itu kembali ditegaskan—bukan dengan retorika, melainkan dengan langkah di tanah dan bibit di tangan.
HDS/jib







