Lebih dari Sekadar Arisan, FORSA Cianjur Bangun Ekonomi Kerakyatan dan Reformasi Organasi Berbasis Ukhuwah
CIANJUR – bidikhukumnews.com
tengah hiruk-pikuk politik nasional dan tekanan ekonomi global yang masih menyisakan tantangan di tingkat lokal, sebuah komunitas penggemar musik dangdut di Kabupaten Cianjur justru menunjukkan potensi besar sebagai perekat sosial sekaligus laboratorium ekonomi kerakyatan. Fans Of Rhoma And Soneta (FORSA) Kabupaten Cianjur sukses menggelar arisan perdana periode kedua pada Senin (4/5/2026) dengan sistem yang revolusioner di tingkat basis.
Bertempat di Sekretariat FORSA yang berada di Jalan KH. Ahmad Munawar No. 14, Desa Cikaroya, Kecamatan Warungkondang, kegiatan yang awalnya dipandang sebagai rutinitas warga biasa ini berubah menjadi ajang studi organisasi dan pemberdayaan ekonomi kreatif.
Yang membedakan kegiatan kali ini adalah keberanian pengurus mengubah skema klasik. Jika periode sebelumnya arisan bersifat konvensional, kali ini panitia memberlakukan sistem unik: dari total 48 peserta aktif, setiap bulan akan diundi 4 orang pemenang. Rencananya, pengundian akan dilakukan rutin setiap tanggal 4.
Menurut pengurus harian, sistem ini dirancang untuk mempercepat perputaran uang di kalangan anggota dan menciptakan kepastian. Dengan 48 peserta, dalam setahun seluruh anggota akan mendapatkan jatahnya masing-masing tanpa harus menunggu giliran selama 4 tahun.
“Kami ingin uang ini produktif. Dengan mendapatkan dana segar lebih cepat, anggota bisa memutar usahanya, bukan sekadar menabung mati. Ini adalah bentuk kecil dari economic cycle yang sehat,” ujar H. Agus Chandra, SE, Ketua DPC FORSA Kabupaten Cianjur, dalam pidato sambutannya yang disambut tepuk tangan meriah.
Acara pengocokan pertama ini tidak berlangsung biasa. Kehadiran Ketua DPW FORSA Jawa Barat, Didin Suryadin, S.E., serta Pembina FORSA Jawa Barat, H. Dhimas, SM., SE. , menandakan bahwa event ini diawasi langsung sebagai proyek percontohan untuk cabang-cabang lainnya di Jawa Barat.
Didin Suryadin dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa FORSA tidak boleh stagnan sebagai organisasi penggemar musik semata.
“Rhoma Irama mengajarkan kita tentang ketertiban, suara rakyat, dan ekonomi. FORSA Cianjur telah menerjemahkan itu ke dalam aksi nyata. Saya akan merekomendasikan sistem arisan periodik ini sebagai best practice untuk 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat,” tegas Didin.
Menariknya, setelah proses pengundian yang berlangsung terbuka dan transparan (di mana 4 nama pemenang periode pertama diumumkan di depan umum), suasana langsung bertransformasi menjadi forum musyawarah. Para anggota dan pengurus duduk melingkar membahas program kerja tiga bulan ke depan.
Pembahasan tidak hanya berputar pada keuangan kas, tetapi juga rencana FORSA untuk terlibat dalam pelestarian musik dangdut asli (bukan koplo instant) serta aksi sosial berupa bakti sosial di panti asuhan pada bulan Juni mendatang.
Pembina FORSA Jabar, H. Dhimas, memberikan wejangan yang menggugah. Ia mengingatkan bahwa transparansi adalah harga mati.
“Uang arisan ini adalah amanah. Jangan sampai ada hitam di atas putih. Karena ketika amanah itu dijaga, maka anggota akan percaya. Dan kepercayaan itulah yang membuat sebuah organisasi sebesar FORSA tidak pernah mati dimakan zaman,” ujar H. Dhimas.
Hingga sore hari, acara ditutup bersama. Bagi H. Agus Chandra, keberhasilan acara ini bukanlah tentang siapa yang menang undian, melainkan tentang bagaimana 48 orang dari berbagai latar belakang ekonomi dan profesi bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
“Kami buktikan bahwa hobi yang sama, yaitu kecintaan pada musik Rhoma Irama dan Soneta yang penuh pesan moral, bisa menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun kabupaten ini dari akar rumput,” pungkasnya.
HDS/Jib







