Dari Cianjur untuk Dangdut Nasional: Asha Syapa, Gadis Berhijab yang Siap Guncang Panggung FORSA di Jakarta
Di tengah gempuran musik pop, hip-hop, dan K-pop yang mendominasi playlist generasi Z, seorang siswi berkerudung asal Kabupaten Cianjur justru memilih jalan yang berbeda. Namanya Asha Syapa Destiani, siswa kelas 11 SMK Gema Pelita yang masih belia—baru menginjak usia 16 tahun.
Dengan suara emas dan tekad baja, Asha perlahan membangun mimpi besar: menjadi artis dangdut nasional yang tidak hanya dikenal karena kemampuannya bernyanyi, tetapi juga karena akhlak dan integritasnya.
Perjalanan Asha bukan sekadar perjalanan artistik. Ia adalah anggota aktif Fans Of Rhoma And Soneta (FORSA) DPC Kabupaten Cianjur—organisasi yang didirikan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama untuk mewadahi penggemar dangdut yang mencintai tidak hanya musiknya, tetapi juga nilai-nilai disiplin, moral, dan nasionalisme. Di FORSA inilah Asha menemukan panggung pertama untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun karakter.
Bakat Asha mulai bersinar terang ketika ia mengikuti ajang FORSA Idel tingkat Jawa Barat pada 2025. Dengan penampilan yang penuh penghayatan dan aura percaya diri seorang remaja berhijab, Asha berhasil menyabet gelar Juara Favorit. Prestasi ini menjadi penanda bahwa dangdut tidak hanya milik kalangan tertentu, tetapi juga bisa menjadi ruang ekspresi bagi remaja putri religius yang ingin berkarya.
Puncak perjalanan awal Asha baru akan tiba. Pada tanggal 25-26 April mendatang, ia akan tampil di panggung bergengsi Kopi Darat Nasional (KOPDARNAS) FORSA yang digelar di Jakarta. Acara yang mempertemukan pegiat dangdut se-Indonesia ini menjadi ajang pembuktian bagi Asha. Ia terpilih sebagai salah satu bintang muda yang mewakili Cianjur—sebuah amanah sekaligus pengakuan bahwa bakat besar bisa lahir dari daerah mana pun.
“Sejak kecil saya suka dangdut. Saya kagum dengan karya-karya Rhoma Irama yang penuh pesan. Cita-cita saya bukan cuma dikenal, tapi ingin membawa dangdut ke arah yang lebih positif, apalagi dengan tetap berhijab. Saya ingin menjadi artis dangdut nasional yang bisa menginspirasi remaja lain bahwa berhijab dan bernyanyi dangdut itu bisa sejalan, keren, dan penuh prestasi,” ujar Asha dengan mata berbinar saat ditemui di panggung Ulang Tahun Perkumpulan Sound Cianjur.
Ketua FORSA DPC Cianjur, H. Agus Chandra, SE, menyatakan kebanggaannya memiliki kader muda seperti Asha. Menurutnya, Asha adalah bukti nyata bahwa generasi Z bisa mencintai dangdut tanpa meninggalkan identitas dan moralitas.
“Kami akan terus mendukung Asha untuk tampil maksimal di acara nasional nanti. Dia adalah harapan baru dangdut Cianjur,” tegasnya.
Di tengah persiapan menuju pentas nasional, Asha tidak meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar. Ia berlatih vokal hampir setiap hari di sela-sela kesibukan sekolah. Para guru di SMK Gema Pelita pun memberikan dukungan penuh, karena Asha dinilai mampu membagi waktu antara akademik dan seni dengan sangat baik.
Dalam wawancara eksklusif, Asha mengungkapkan bahwa tampil di Kopi Darat Nasional FORSA adalah pintu gerbang pertamanya menuju panggung besar.
“Saya tidak takut bersaing. Justru saya ingin menunjukkan bahwa penyanyi dangdut muda dari Cianjur, berkerudung, dan berprestasi itu ada. Doakan saya, semoga penampilan di Jakarta nanti bisa membuka jalan menuju mimpi saya menjadi artis dangdut nasional,” harapnya dengan senyum penuh keyakinan.
Publik tanah air kini menanti. Akankah Asha Syapa Destiani menjadi bintang dangdut masa depan yang meneruskan estafet kejayaan musik Melayu di Indonesia?
Satu hal yang pasti: dari Cianjur, suara emas seorang gadis berkerudung mulai menggema. Dan dangdut Indonesia sedang bersiap menyambut nama baru yang penuh potensi—seorang remaja yang membuktikan bahwa bermimpi besar tidak pernah mengenal usia, asal daerah, atau penampilan.
Reporter: HDS/jib







