Relevansi Ilmu Kebal di Zaman Modern: Dari Mitos Menuju Latihan Kesadaran
SUKABUMI — bidikhukumnews.com
Istilah ilmu kebal kerap memicu perdebatan di ruang publik. Sebagian masyarakat menilainya sebagai mitos yang tidak sejalan dengan nalar modern, sementara sebagian lainnya memandangnya sebatas atraksi ekstrem. Di antara dua sudut pandang tersebut, muncul pendekatan yang lebih reflektif, yang menempatkan kebal bukan semata sebagai ketahanan fisik, melainkan sebagai pengalaman kesadaran manusia saat berada di bawah tekanan.
Berangkat dari ketertarikan terhadap wacana tersebut, seorang wartawan bidikhukumnews.com yang berdomisili di Sukabumi melakukan wawancara dengan seorang praktisi sekaligus pengajar ilmu tradisional Nusantara yang bermukim di Gresik, Jawa Timur. Praktisi ini dikenal aktif di media sosial Facebook dengan jumlah pengikut sekitar 70 ribu akun, serta rutin membagikan dokumentasi latihan ketahanan tubuh yang ia sebut sebagai Tajriban Kebal.
Konten yang diunggah praktisi tersebut memunculkan respons publik yang beragam. Sebagian warganet menilai praktik itu sebagai upaya pelestarian tradisi dan pembentukan disiplin diri, sementara lainnya melontarkan kritik dengan menyebut kebal sebagai sugesti, mitos, atau sekadar trik. Perbedaan pandangan inilah yang mendorong dilakukannya wawancara, dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan proporsional.
Karena keterbatasan jarak, wawancara dilaksanakan secara daring melalui panggilan video WhatsApp, pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, menjelang pukul 00.00 WIB.
Dalam wawancara tersebut, praktisi menjelaskan bahwa perdebatan publik sering kali terjebak pada upaya membuktikan apakah kebal itu nyata atau tidak. Menurutnya, fokus tersebut justru melewatkan aspek yang lebih esensial, yakni apa yang terjadi dalam diri manusia ketika menghadapi tekanan nyata. Tajriban kebal, kata dia, tidak diposisikan sebagai ajang pembuktian kemampuan fisik, melainkan sebagai latihan kesadaran terapan yang dilakukan dalam kondisi terkontrol.
Ia menegaskan, dalam tradisi Nusantara yang menjunjung adab dan jaga diri, kebal tidak dipahami sebagai kondisi permanen yang melekat pada seseorang. Kebal lebih dipahami sebagai keadaan tertentu yang muncul dalam proses dan situasi khusus. Oleh karena itu, tajriban ditempatkan sebagai uji pengalaman batin, bukan sebagai sarana membangun citra diri atau memamerkan keunggulan.
Terkait penggunaan tekanan sebagai media latihan, praktisi tersebut menjelaskan bahwa tekanan justru memunculkan respons paling jujur dari manusia. Dalam kajian psikologi dan neurofisiologi dikenal istilah freeze response, yakni respons membeku saat sistem saraf menghadapi ancaman. Melalui tajriban, peserta dilatih untuk menyadari dan mengelola respons tersebut secara langsung dan sadar.
Menurutnya, faktor utama dalam tajriban kebal bukanlah kekuatan fisik ataupun sugesti, melainkan kehadiran kesadaran. Ketika kesadaran hadir secara utuh, emosi menjadi lebih terkelola dan tubuh tidak jatuh dalam mode panik. Dengan demikian, kebal lebih tepat dipahami sebagai bentuk ketahanan kesadaran, bukan sekadar ketahanan jasmani.
Ia juga menekankan bahwa perubahan keadaan kesadaran dalam tajriban bukan berarti kehilangan kendali. Fokus justru menjadi lebih terpusat, distraksi mental berkurang, dan kesadaran tubuh meningkat. Praktisi tetap berada dalam kondisi sadar penuh, yang ia sebut sebagai fokus yang terregulasi, bukan kondisi disosiatif.
Dalam praktik Jadug Art (JAO), kebal diajarkan sebagai latihan present moment, dengan penekanan agar murid tidak membawa ego atau keinginan untuk diakui. Menanggapi publikasi video tajriban kebal di media sosial, praktisi menjelaskan bahwa publikasi tersebut berada dalam koridor latihan, edukasi, dan syi’ar. Ia juga membedakan dua bentuk kebal, yakni kebal refleks yang muncul otomatis saat bahaya, serta kebal tajriban yang dilakukan secara sadar sesuai niat latihan.
Ciri khas praktik kebal dalam kelas Jadug, lanjutnya, dilakukan secara tenang dan tidak brutal. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga etika serta mencegah tumbuhnya kesombongan. Tajriban diposisikan sebagai laboratorium kesadaran pribadi, dengan manfaat yang melampaui aspek ketahanan fisik semata.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa istilah Jadug secara bahasa berarti teguh dan kuat secara maksimal dan optimal, melampaui kemampuan manusia pada umumnya. Namun konsep tersebut tidak hanya merujuk pada kekuatan fisik, melainkan juga kualitas mental dan kesadaran. Dalam terminologi modern, konsep ini sepadan dengan gagasan Human Excellence, yang dapat dipahami sebagai versi Nusantara dari pengembangan potensi manusia secara utuh.
Penutup
Tajriban kebal, sebagaimana dipraktikkan dalam Jadug Art, ditempatkan sebagai sarana latihan kesadaran, adab, dan ketahanan batin di bawah tekanan, bukan sebagai tontonan sensasional atau ajang pembuktian ego.
Di tengah masyarakat modern yang dihadapkan pada tekanan psikologis yang semakin tinggi, pendekatan ini menawarkan perspektif alternatif tentang bagaimana tradisi Nusantara sejak lama mengenali, melatih, dan mendisiplinkan kesadaran manusia. Pada akhirnya, tajriban kebal bukan tentang menjadi “tidak terluka”, melainkan tentang kemampuan untuk tetap hadir, tenang, dan utuh saat menghadapi situasi yang menekan.
Pewarta: Abdul
Catatan:
Konsep Jadug dikembangkan dan diajarkan oleh Edi Sugianto (Abah Edi Sugianto) melalui platform NAQSDNA, sebagai bagian dari pendekatan pemberdayaan diri berbasis kesadaran Nusantara modern.
Reporter: Abdulatip
