Viral Ikan Mati di Jangari, DPKHP Cianjur Sebut Fenomena Upwelling Jadi Pemicu Utama
Video yang memperlihatkan ribuan ikan mati di kawasan Jangari, Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, viral di media sosial TikTok. Banyak warganet mengaitkan peristiwa tersebut dengan cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Cianjur dalam beberapa hari terakhir.
Namun, Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur menyatakan kematian ikan di keramba jaring apung tidak semata-mata disebabkan oleh suhu udara yang tinggi. Penyebab utamanya diduga merupakan fenomena upwelling, yakni naiknya massa air beserta endapan dari dasar waduk ke permukaan saat terjadi perubahan musim.
Kepala DPKHP Kabupaten Cianjur, Iwan Setiawan, mengatakan fenomena tersebut hampir terjadi setiap tahun, terutama ketika memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun sebaliknya.
“Fenomena ini memang terjadi hampir setiap tahun saat pergantian musim. Sedimentasi yang berada di dasar naik ke permukaan sehingga menjadi racun bagi ikan. Kondisi ini seharusnya sudah dipahami para pembudidaya ikan agar dapat melakukan antisipasi,” kata Iwan.
Menurutnya, upwelling menyebabkan kualitas air menurun karena endapan yang mengandung senyawa berbahaya terangkat ke permukaan. Kondisi tersebut dapat mengurangi kadar oksigen terlarut sehingga ikan budidaya di keramba mengalami stres, mabuk, hingga mati.
DPKHP mengimbau para pembudidaya ikan di wilayah Jangari dan kawasan Waduk Cirata untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan segera melakukan panen apabila muncul tanda-tanda yang mengarah pada terjadinya upwelling.
Iwan menyebut pembudidaya yang menunda masa panen menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami kerugian ketika fenomena tersebut terjadi.
“Kami terus melakukan sosialisasi agar para petani dapat mengantisipasi lebih awal sehingga kerugian akibat kematian ikan dapat ditekan,” ujarnya.
Selain edukasi, Pemerintah Kabupaten Cianjur juga menyiapkan bantuan benih ikan melalui Balai Benih Ikan bagi masyarakat yang terdampak. Bantuan dapat diajukan sesuai kapasitas produksi yang tersedia, meski hingga kini belum ada skema penggantian kerugian akibat kematian ikan.
“Kalau untuk bantuan benih kami siap. Masyarakat bisa mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah dan akan disesuaikan dengan kapasitas produksi Balai Benih Ikan. Namun untuk penggantian kerugian akibat kematian ikan saat ini belum ada programnya,” jelasnya.
Iwan menambahkan, ikan liar seperti gabus umumnya lebih mampu bertahan menghadapi perubahan kualitas air karena dapat berpindah ke lokasi yang lebih aman. Berbeda dengan ikan budidaya di keramba yang tidak memiliki ruang untuk menghindari kondisi perairan yang memburuk.
Terkait keberadaan ikan sapu-sapu di perairan umum, DPKHP memastikan populasinya di Kabupaten Cianjur masih terkendali. Meski demikian, pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan instansi terkait apabila di kemudian hari spesies tersebut dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem.
Peristiwa yang viral di media sosial ini menjadi pengingat bagi para pembudidaya ikan agar tidak hanya memperhatikan kondisi cuaca panas, tetapi juga mewaspadai perubahan kualitas air yang dipicu fenomena upwelling, yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kematian massal ikan di Waduk Cirata.
Penulis: Indra/HDS







