BUKAN SEKADAR TAMBANG: CERIA NUGRAHA INDOTAMA DAN MASA DEPAN WOLO
KOLAKA, SULTRA || bidikhukumnews.com
Kehadiran investasi pertambangan di Sulawesi Tenggara acap kali hanya diukur dari besaran angka, kapasitas produksi, atau kontribusi pendapatan daerah. Namun, bagi masyarakat di kawasan industri, ukuran keberhasilan paling nyata adalah dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup warga lokal.
Sudut pandang tersebut ditegaskan oleh Koordinator Rembuk Pemuda Sultra sekaligus Ketua KNPI Kabupaten Kolaka, Ripaldi Rusdi, S.H. Menurutnya, keberadaan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, tidak boleh dipandang sebatas aktivitas pengerukan dan pengolahan mineral semata.
”Ceria adalah bagian dari cerita baru Wolo. Ini tentang bagaimana kekayaan alam diubah menjadi penggerak ekonomi, serta bagaimana kawasan yang dulu jauh dari pusat pertumbuhan kini mulai berkembang,” ujar Ripaldi.
Ia menilai, pergerakan industri hilirisasi di Wolo membawa multiplier effect yang signifikan. Rantai ekonomi tidak hanya berhenti di area tambang, tetapi merembet ke sektor perdagangan, logistik, jasa, hingga UMKM lokal.
Dorong Keterlibatan Pemuda Lokal
Sebagai penggerak organisasi kepemudaan, Ripaldi menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menyikapi arus investasi ini. Ia menegaskan agar pemuda Kolaka tidak sekadar menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.
”Kita ingin anak muda menjadi bagian dari pertumbuhan itu—baik sebagai tenaga profesional, teknisi, pengusaha lokal, maupun penyedia jasa. Investasi terbaik bukan hanya membangun fasilitas industri, tetapi juga membangun manusia yang mengisi masa depan daerah,” tegasnya.
Namun, ia juga mengingatkan adanya pekerjaan rumah bagi pemuda setempat untuk terus meningkatkan kompetensi dan keterampilan. Tanpa kesiapan kualitas sumber daya manusia (SDM), peluang ekonomi yang terbuka berpotensi luput dari jangkauan tenaga kerja lokal.
Komitmen Sosial dan Tanggung Jawab Lingkungan
Di sisi lain, Ripaldi menekankan pentingnya tata kelola industri yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Mengingat pertambangan memiliki dua sisi, penciptaan nilai tambah melalui hilirisasi harus berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Ia mendorong PT CNI untuk terus memperkuat jejak sosialnya melalui kemitraan jangka panjang, bukan sekadar hubungan transaksional. Pemberdayaan pelaku usaha lokal dan program pengembangan masyarakat (PPM) yang tepat sasaran menjadi kunci utama keberlanjutan.
”Perusahaan yang besar adalah perusahaan yang ketika tumbuh, masyarakat di sekitarnya ikut tumbuh. Kita tidak boleh hanya bertanya berapa banyak yang diambil dari Wolo, tetapi berapa banyak masa depan yang sedang dibangun dari Wolo,” tutup Ripaldi.
Reporter : Mulyadi Ansan
(Kaperwil Sultra)
