Dinilai Sudutkan Profesi Jurnalis, Oknum Pengurus PWI Akhirnya Minta Maaf

KABUPATEN BOGORbidikhukumnews.com
Acara Safari Jurnalistik yang digagas oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kabupaten Bogor berujung sorotan. Hal ini terjadi setelah salah satu oknum pengurus PWI mengeluarkan pernyataan kontroversial saat memberikan penjelasan kepada audiens pertemuan di Desa Kemang Kabupaten Bogor. Kamis 09/07/2026.

Dalam pemaparannya, di video yang beredar oknum tersebut menyatakan bahwa jika ada wartawan yang datang ke kantor desa untuk melakukan konfirmasi, pihak desa wajib memastikan terlebih dahulu apakah jurnalis tersebut sudah ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan medianya terdaftar di Dewan Pers. Ia menambahkan, jika syarat tersebut tidak terpenuhi, pihak desa tidak perlu melapor ke Dewan Pers, melainkan bisa langsung konsultasikan ke aparat kepolisian karena dianggap sebagai “wartawan tidak jelas”.

Argumen tersebut langsung memicu reaksi keras dan menjadi perhatian serius dari berbagai awak media yang hadir. Pernyataan itu dinilai sepihak, serta diduga bermuatan sentimen pribadi yang menyudutkan profesionalisme wartawan secara umum.

Sebagai informasi, esensi profesi kewartawanan di Indonesia secara hukum diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). UU Pers menjamin kemerdekaan pers dan memberikan hak mencari informasi kepada jurnalis selama mematuhi kode etik, tanpa menjadikan UKW sebagai syarat mutlak legalitas seseorang untuk melakukan peliputan di lapangan.

Saat sejumlah awak media mencoba melakukan konfirmasi langsung terkait dasar pernyataannya, oknum PWI tersebut enggan memberikan jawaban mendalam dan memilih langsung meninggalkan kerumunan wartawan.
Namun, setelah menuai polemik dan gelombang protes, oknum PWI tersebut akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Permintaan maaf pribadi tersebut disampaikan melalui sebuah rekaman video yang kini telah beredar luas di media sosial dan grup percakapan instan.

Menanggapi kejadian ini, beberapa tokoh masyarakat dan kalangan pers menyayangkan insiden tersebut. Mereka menilai program Safari Jurnalistik seharusnya berfokus pada edukasi positif, membangun kemitraan yang sehat antara desa dan media, serta memberikan pembelajaran literasi informasi yang objektif kepada masyarakat luas, bukan menciptakan sekat atau kegaduhan baru.

Reporter: (Geno)