Siswa SD di Bogor Jadi Korban Kelalaian Dapur MBG, SPPG Berdalih Makanan Disajikan
Bogor – bidikhukumnews.com
Kasus dugaan keracunan usai menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di wilayah Kota Bogor, Jawa Barat.
Kali ini, dialami oleh puluhan siswa SD Negeri 2 dan 3 Batutulis, yang terletak di Kecamatan Bogo Selatan, Kota Bogor. Mereka pun mengalami beragam keluhan, dari mulai pusing-pusing, mual-mual hingga muntah.
Pasca kejadian, puluhan siswa dilarikan ke Puskesmas Bogor Selatan untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Kepala SPPG Batutulis, Budi mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui jika ada siswa yang diduga keracunan akibat menyantap MBG tersebut.
“Saya sendiri juga tidak tahu, karena pada dasarnya kita sudah menjalankan semuanya sesuai SOP. Tapi memang katanya ayamnya bau, dan saat ini sedang dites,” ujar Budi kepada awak media, di UPTD Puskesmas Bogor Selatan, Jumat, 14 November 2025.
Dalam kejadian ini, Budi menyebut bahwa ada beberapa anak yang muntah-muntah. Namun, dirinya belum tahu penyebab pasti apa yang dialami para siswa.
“Tetapi yang jelas kita sedang melakukan pengecekan. Nantinya juga akan ada klarifikasi, termasuk pemeriksaan ke tempat kita,” imbuhnya.
Disinggung soal standarisasi proses pemasakan, Budi menegaskan bahwa pihaknya selalu menjaga hal tersebut.
“Selalu dijaga, Pak. Ada SOP-nya, mulai dari pintu PPC, tirai PPC dan sebagainya, seperti pengamanan agar tidak ada lalat. Ayam yang digunakan juga ayam baru,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Budi menyebut bahwa SPPG yang dikelola olehnya telah melayani sekitar 15 sekolah yang ada di wilayah Bogor Selatan. Namun, hanya dua sekolah yang mengalami dugaan keracunan.
“Gejala yang dialami sebagian besar adalah muntah-muntah. Ada yang setelah dicek langsung pulang dan ada juga beberapa yang merasa tidak enak badan. Mudah-mudahan hasil tesnya segera keluar supaya kita bisa mengetahui penyebabnya,” kata dia.
Sebelumnya, Kepala UPTD Puskesmas Bogor Selatan, dr. Maria Yuliana mengatakan bahwa para siswa yang berasal dari SDN Batutulis 2 dan 3 datang dalam beberapa rombongan dengan keluhan gejala mual, muntah dan pusing usai mengonsumsi makanan yang sama.
“Awalnya datang beberapa anak, dua diantaranya muntah. Kami langsung lakukan observasi. Sekitar 15 menit kemudian datang lagi rombongan berikutnya hingga jumlahnya hampir mencapai 15 orang,” ujarnya kepada awak media, Jumat 14 November 2025.
” dr. Maria menyebut bahwa penanganan awal yang dilakukan yakni triase atau pemilihan pasien untuk memisahkan anak dengan kondisi stabil dan yang mengalami gejala lebih berat.
“Yang aman kita pisahkan, sedangkan yang bergejala berat langsung kami masukkan ke ruangan. Dari seluruh pasien, hanya satu yang sampai sekarang masih kami tangani dengan infus,” jelasnya.
Adapun gejala yang dialami para siswa umumnya berupa mual, pusing dan muntah. Sementara satu anak masih berada dalam pengawasan karena mengalami buang air besar bercampur darah.
Dari total 35 anak yang datang sejak rombongan pertama, lanjut dr. Maria, 32 di antaranya telah diperbolehkan pulang dan masih tersisa tiga anak dalam perawatan.
“Sekitar pukul 13.10 WIB, seorang siswa dari SD Lawang Gintung 1 kembali datang dengan gejala yang sama, sehingga total pasien menjadi 36 orang,” ungkapnya.
Sementara itu, terkait dengan makanan yang diduga menjadi sumber keracunan, dr. Maria menegaskan bahwa pihaknya telah mengamankan sampel makanan yang dikonsumsi para siswa sebelumnya.
Termasuk, masih kata dr. Maria, sampel muntahan untuk diperiksa oleh bagian Kesehatan Lingkungan (Kesling).
“Ada yang mengatakan ayamnya agak kurang enak, sebagian menyebut sayur jagung dan sayuran lain. Namun sebagian besar menyebut ayam. Tapi kami belum bisa pastikan. Semua harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium kesehatan,” ujarnya.
Kendati demikian, dr. Maria menambahkan bahwa seluruh makanan yang dikonsumsi para siswa berasal dari penyedia SPPG yang sama (SPPG Batutulis). Terkait hasil laboratorium, dr. Maria mengaku pemeriksaan bisa memakan waktu 2-3 hari.
“Kami menunggu hasil dari Labkesda yang akan memberi informasi resminya. Sedangkan, untuk ketiga siswa yang sudah diinfus, kini gejalanya berkurang. Tidak ada yang dirujuk, semua kami tangani di puskesmas. Insyaallah 2-3 jam ke depan bila kondisinya membaik, akan kami pulangkan.
Reporter: Erik







