Kehadiran Industri Pertambangan di Kolaka: Kesejahteraan atau Penderitaan Rakyat?
Kolaka Sulawesi Tenggara – bidikhukumnews.com
tanah yang dulu subur, damai, dan penuh kehidupan. Di sini, hutan adalah naungan, sungai adalah nadi, dan laut adalah sumber kehidupan. Namun hari ini, wajah Kolaka tak lagi sama, 31 Oktober 2025.
Di balik deru mesin industri dan kilauan investasi, tersimpan luka sosial dan kerusakan lingkungan yang makin sempurna.
Kata mereka, semua ini demi kemajuan. Demi kesejahteraan rakyat. Tapi saya bertanya dalam hati: kesejahteraan untuk siapa? Karena di tengah masifnya pembangunan dan gegap gempita investasi, rakyat kecil justru terpinggirkan di tanahnya sendiri.
Janji Kesejahteraan yang Tak Kunjung Nyata
Masuknya industri di Kolaka awalnya membawa harapan. Pemerintah daerah dengan bangga menyebut peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pertumbuhan ekonomi, dan terbukanya lapangan kerja. Namun, jika kita menengok ke lapangan, narasi itu tampak rapuh.
Petani kehilangan lahan karena dibebaskan untuk tambang. Nelayan kehilangan mata pencaharian karena laut mereka tercemar limbah industri.
Mereka yang dulu hidup dari alam, kini menjadi buruh kasar tanpa kepastian kerja, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa masa depan yang pasti.
Rakyat Kolaka tidak menolak pembangunan, mereka hanya menolak ketidakadilan yang datang bersamanya.
Kesenjangan Sosial dan Bayang-Bayang Ketidakadilan
Ketika industri berdiri, rumah-rumah megah dan kendaraan mahal mulai bermunculan di sekitar kota.
Tapi di balik gemerlap itu, ada kampung-kampung yang berdebu, air sumur yang keruh, dan anak-anak yang batuk karena udara yang tak sehat.
Kesenjangan sosial kini begitu terasa. Para pemilik modal menumpuk keuntungan, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton, menyaksikan kekayaan tanahnya mengalir keluar tanpa mampu menikmati hasilnya.
Konflik horizontal pun mulai muncul. Ada yang berseteru karena batas lahan, ada pula yang terpecah karena janji-janji perusahaan yang tak pernah ditepati. Rasa solidaritas yang dulu begitu kuat antarwarga, kini terkikis oleh kepentingan ekonomi dan tekanan hidup.
Dan yang paling menyedihkan, sebagian besar masyarakat kini hidup dalam ketakutan — takut bersuara, takut kehilangan pekerjaan, takut dianggap menentang kekuasaan.
Lingkungan yang Kian Menjerit
Kolaka, yang dulu dikenal hijau dan asri, kini mulai kehilangan warnanya. Gunung digali, hutan dibabat, dan laut berubah warna. Sungai yang dulunya menjadi sumber air bersih kini keruh kemerahan, membawa sedimen dan limbah yang berbahaya. Banyak ekosistem yang rusak — ikan-ikan menghilang, mangrove mati, dan tanah tak lagi subur. Karena di balik narasi kemajuan, saya melihat kehidupan yang sedang sekarat.
Jika kerusakan ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya kekayaan alam, tapi juga masa depan Generasi Kolaka.
Kemajuan yang Tidak Memanusiakan
Kita tidak bisa menutup mata: pembangunan seharusnya membawa harapan, bukan penderitaan. Tapi di Kolaka, kemajuan justru datang dengan harga sosial dan lingkungan yang begitu mahal.
Apalah arti pembangunan jika rakyatnya kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, dan kehilangan udara bersih untuk bernapas?
Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus berani mengambil sikap. Jangan hanya menjadi penonton di tengah penderitaan rakyat.
Industri yang beroperasi tanpa memperhatikan lingkungan dan keadilan sosial sama saja dengan penjajahan dalam bentuk muka yang baru —penjajahan oleh modal atas manusia.
Pembangunan sejati adalah yang menumbuhkan manusia, bukan menghancurkan martabatnya.
Kemajuan sejati adalah yang menjaga alam, bukan mengorbankannya untuk keuntungan jangka pendek.
Menatap Masa Depan Kolaka
Saya menulis ini bukan karena benci industri, tapi karena saya mencintai tanah ini. Saya ingin Kolaka tumbuh menjadi daerah yang maju, tapi tetap adil. Saya ingin industri berdiri dengan tanggung jawab, dengan hati.
,” Sumber Oleh: Muh. Irfan Firdaus, kader tulen Badan eksekutif mahasiswa fakultas Sains dan teknologi, Universitas Sembilanbelas November Kolaka.
Reporter: Kaperwil Sultra-Mulyadi Ansan







