Warga Desa Huko-Huko Longori, Pesouha Kabupaten Kolaka Geram: Sungai Berubah Merah, Sawah Rusak Diduga Akibat Aktivitas PT Vale Indonesia Site Pomalaa
Kolaka, Sulawesi Tenggara – bidikhukumnews.com
Masyarakat Desa Huko-Huko, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Pada Tenggara 30 Oktober 2025. Menyatakan kemarahan dan kekecewaan mendalam terhadap aktivitas PT. Vale Indonesia Tbk (PT Vale) Site Pomalaa, khususnya terkait Proyek Peningkatan Pertumbuhan Indonesia (IGP) Pomalaa.
Keresahan utama warga yang berada di kawasan Ring 1 di 3 Desa Huko huko, Longori,Pesouha tersebut adalah dugaan pencemaran parah yang menyebabkan air sungai di desa mereka berubah warna menjadi Coklat pekat, yang disamakan warga “seperti warna darah yang mengalir”.
💧 Perubahan Drastis Warna Air Sungai:
Menurut pernyataan yang disampaikan oleh perwakilan masyarakat, selama puluhan tahun PT. Antam Tbk beroperasi di wilayah Pomalaa dan menggunakan air sungai setempat sebagai sumber utama untuk pabrik Fe-Ni mereka, belum pernah terjadi perubahan drastis pada kualitas air sungai seperti yang terjadi saat ini di bawah kegiatan PT Vale IGP Pomalaa.
“Kami sudah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kegiatan tambang Antam. Sungai ini adalah sumber air kami. Baru kali ini, ketika PT. Vale Indonesia hadir, sungai kami berubah warna menjadi merah, persis seperti darah.
Ini memecahkan rekor buruk,” ujar salah satu perwakilan Masyarakat Ring 1 Desa Huko-Huko.
🌾 Sawah Rusak Terdampak Sedimentasi Lumpur
Selain pencemaran air sungai, masyarakat juga melaporkan kerugian besar pada sektor pertanian mereka. Sawah-sawah milik warga Desa Huko-Huko dan beberapa Desa dilaporkan rusak parah akibat sendimen lumpur yang diduga kuat berasal dari aktivitas konstruksi dan penambangan nikel oleh PT Vale.
Masuknya lumpur dan sedimentasi ini tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga mengancam produktivitas lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama sebagian besar warga.
Poin Utama Keluhan Warga:
Air sungai berubah warna menjadi merah pekat, diduga akibat limbah atau sedimentasi dari aktivitas PT Vale IGP Pomalaa.
Sawah masyarakat mengalami kerusakan signifikan karena sendimen lumpur.
Masyarakat menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas dampak lingkungan dan kerugian ekonomi yang mereka alami.
Dampak dari masuknya air sedimen tambang dari sungai ke laut sangat negatif dan memengaruhi berbagai aspek ekosistem laut dan pesisir.
🌊 Dampak Utama Sedimen Tambang ke Laut
Berikut adalah beberapa dampak utama yang ditimbulkan:
Peningkatan Kekeruhan dan Penurunan Kualitas Air Laut:
Sedimen dalam jumlah besar membuat air laut menjadi keruh (meningkatkan Total Suspended Solids/TSS).
Kekeruhan ini menghalangi penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan.
Kerusakan Ekosistem Pesisir dan Laut:
Terumbu Karang dan Lamun: Kurangnya cahaya matahari mengganggu proses fotosintesis terumbu karang dan padang lamun, menyebabkan mereka mati. Sedimen juga bisa menutupi dan menenggelamkan terumbu karang dan biota dasar laut lainnya secara langsung.
Hutan Mangrove: Sedimentasi berlebihan dapat mengganggu perakaran mangrove.
Daerah Pemijahan dan Asuhan Ikan: Kerusakan ekosistem ini merusak tempat ikan bertelur dan mencari makan saat masih kecil, yang berdampak pada penurunan populasi ikan di masa depan.
Pendangkalan Laut (Sedimentasi):
Endapan sedimen yang dibawa sungai akan terakumulasi di muara dan dasar laut, menyebabkan pendangkalan (perubahan topografi dasar laut).
Pendangkalan ini dapat menyulitkan akses perahu nelayan dan meningkatkan risiko banjir rob di wilayah pesisir.
Pencemaran Logam Berat dan Zat Kimia Berbahaya:
Limbah tambang (terutama tailing) seringkali mengandung logam berat (seperti Merkuri, Timbal, Arsen, dll.) atau zat kimia lain yang digunakan dalam proses penambangan.
Zat-zat ini dapat terakumulasi dalam sedimen di dasar laut dan mencemari biota laut, yang pada akhirnya berbahaya bagi manusia yang mengonsumsi biota laut tersebut.
Abrasi dan Erosi Pesisir:
Perubahan profil dasar laut akibat sedimentasi atau pengerukan pasir laut dapat mengubah pola arus dan energi gelombang, yang berpotensi meningkatkan abrasi (pengikisan) pada garis pantai.
👥 Dampak Sosial dan Ekonomi
Dampak lingkungan ini juga berimbas pada masyarakat pesisir, terutama nelayan:
Penurunan Tangkapan Ikan: Kerusakan ekosistem dan pencemaran menyebabkan nelayan harus berlayar lebih jauh, atau kehilangan mata pencaharian mereka.
Konflik Sosial: Seringkali terjadi konflik antara masyarakat yang bergantung pada laut dan perusahaan tambang.
Kesehatan Masyarakat: Pencemaran logam berat pada biota laut dapat mengancam kesehatan masyarakat yang mengonsumsi hasil laut.
Singkatnya, air sedimen tambang adalah sumber polusi fisik dan kimia yang serius bagi lingkungan laut, mengancam keanekaragaman hayati dan keberlanjutan sumber daya laut.
Tuntutan Masyarakat Ring 1
Masyarakat Desa Huko-Huko mendesak pihak PT Vale Indonesia Tbk untuk segera mengambil tindakan nyata dan bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang telah terjadi.
Mereka menuntut pemulihan kondisi sungai dan sawah, serta ganti rugi atas kerugian yang diderita.
Reporter: Kaperwil Sultra-Mulyadi Ansan







