Merawat Warisan Leluhur, Kasepuhan Cimande Khidmat Gelar Tradisi Sakral “Ngabungbang” 14 Maulid 1449 Hijriyah

BOGORbidikhukumnews.com

Masyarakat adat Kasepuhan Cimande kembali menggelar rangkaian tradisi turun-temurun Ngabungbang yang bertepatan dengan malam 14 Maulid (Rabiul Awal) 1449 Hijriyah. Tradisi sakral ini merupakan perpaduan harmonis antara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, haul leluhur, serta ajang silaturahmi akbar para pesilat dan masyarakat dari berbagai daerah.

Secara etimologis, kata Ngabungbang berasal dari gabungan kata nga (menyatukan) dan bungbang (membuang atau membersihkan). Ritual ini dimaknai sebagai upaya kolektif untuk menyucikan diri lahir dan batin, membuang sifat-sifat negatif, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Rangkaian Prosesi Sakral Kasepuhan Cimande
Pelaksanaan Ngabungbang 1449 H di kawasan kultural Cimande, Kabupaten Bogor, diisi dengan beberapa tahapan utama yang telah dijaga turun-temurun selama berabad-abad:

Puasa Mutih/Tujuh Hari: Sebelum puncak acara pada 14 Maulid, para keturunan keluarga Kasepuhan Cimande terlebih dahulu menjalankan ibadah puasa selama beberapa hari untuk melatih pengendalian diri dan menundukkan hawa nafsu.

Prosesi Pupuh bagi Muhibbin (Murid Silat): Ratusan murid pencak silat Cimande dari berbagai penjuru mendatangi kasepuhan untuk mengikuti prosesi pupuh. Di sini, bagian mata dan tubuh tertentu dibasuh menggunakan Cai Kamalayan (Air Kemuliaan) yang dicampur daun sirih, diiringi dengan pembacaan sholawat bernafsu religius.

Penyucian Pusaka (Ngumbah Pusaka): Keluarga kasepuhan membersihkan dan merendam benda-benda pusaka warisan leluhur menggunakan air khusus (Cai Cikamalayan) sebagai simbol penghormatan, penjagaan identitas budaya, serta hubungan spiritual dengan para pendahulu.

Ziarah Akbar ke Makam Leluhur: Puncak kegiatan ditutup dengan ziarah massal ke makam para tokoh utama Kasepuhan Cimande, seperti makam Eyang Raden Haji Abdul Somad (Mbah Akhid/Ayah Ocod) dan Mbah Laseha (Eyang Ace), untuk mendoakan para leluhur dan memohon keselamatan.

Menjaga Akar Identitas Budaya Sunda dan Nilai Kemanusiaan
Sesepuh Kasepuhan Cimande menegaskan bahwa tradisi Ngabungbang bukan sekadar ritual seremonial tahunan, melainkan fondasi moral dalam melestarikan ajaran luhur Silat Cimande yang menjunjung tinggi kedamaian, pengendalian diri, dan keselarasan antara tubuh serta jiwa.

“Tradisi ini adalah momentum untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan Sang Pencipta, alam, dan para leluhur. Melalui Ngabungbang, kita diingatkan agar senantiasa menjaga silaturahmi dan merawat nilai-nilai kebaikan di tengah arus modernisasi,” ujar salah satu perwakilan sesepuh kasepuhan.

Melalui penyelenggaraan Ngabungbang 1449 Hijriyah ini, Kasepuhan Cimande berharap kearifan lokal Sunda tetap terjaga kelestariannya serta terus memberikan inspirasi positif bagi generasi muda bangsa.

Catatan untuk Redaksi:
Untuk informasi lebih lanjut, dokumentasi foto, atau konfirmasi peliputan kegiatan adat Kasepuhan Cimande, silakan menghubungi panitia adat/humas Kasepuhan Cimande.

Sabda tunggal
kodun. elmande

Red

IZIN DULU YAH!!!!!!