Dulu Dicap Bodoh, Kini Menginspirasi: Saat EQ dan SQ Lebih Penting daripada IQ
Kendari Sulawesi Tenggara – bidikhukumnews.com
Ketika masih duduk di bangku sekolah di Pulau Buton, saya termasuk murid yang sering kali dianggap nakal. Guru-guru saya sudah hafal, selalu punya cerita bolos, bahkan ada guru yang terang-terangan membenci saya karena sikap yang dianggap sulit diatur. Matematika, misalnya, adalah pelajaran yang benar-benar membuat saya merasa tersiksa. Bahkan bukan sekali dua kali saya harus tidur di bawah pohon demi menghindari kelas tersebut. Saya tidak hanya gagal memahaminya, tetapi sering menghindar agar tidak berhadapan langsung dengan pelajaran itu. Label “bodoh” atau “nakal” begitu mudah melekat. (24 Agustus 2025)
Namun, siapa sangka, di usia belasan tahun saya sudah dipercaya menjadi guru di sebuah Playgroup dan TK di Jakarta dengan kurikulum standar internasional. Saat itu, saya menyadari sesuatu yang penting: ternyata kemampuan saya bukan di angka-angka atau rumus yang rumit, melainkan di kemampuan berinteraksi, menyampaikan sesuatu, dan membangun hubungan dengan anak-anak maupun orang dewasa. Tak berhenti di situ, saya bahkan dipercaya untuk menjadi pembicara termuda di Jakarta, dalam wadah Business Office Ministry (B.O.M.). berbicara di hadapan karyawan perusahaan para profesional yang usianya jauh di atas saya tentang spiritual quotient (SQ).
Itulah titik balik yang membuat saya sadar: keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh IQ semata.
IQ, EQ, dan SQ: Memahami Secara Singkat
Secara keilmuan, IQ (Intelligence Quotient) adalah ukuran kemampuan kognitif—logika, analisis, dan kemampuan akademik seseorang. Itulah yang sering dijadikan patokan utama di sekolah melalui ujian dan nilai rapor.
Namun, ada dua aspek lain yang jauh lebih menentukan kehidupan jangka panjang:
EQ (Emotional Quotient) → kemampuan memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi, serta menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.
SQ (Spiritual Quotient) → kemampuan menemukan makna, tujuan, dan nilai dalam hidup, yang membuat seseorang bisa tetap teguh sekalipun menghadapi kesulitan.
Riset psikologi modern menunjukkan bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 20% pada kesuksesan seseorang. Sisanya, sebagian besar ditentukan oleh EQ dan SQ.
Antara Juara Kelas dan “Anak Biasa Saja”
Saya teringat sebuah cerita nyata. Ada dua orang murid yang akhirnya sama-sama mencapai cita-cita masa kecil. Yang satu pilot dan yang lain dokter.
Yang pertama, seorang anak yang berhasil menjadi dokter. Semasa SMA dikenal cerdas luar biasa. Ia selalu juara umum, dielu-elukan guru dan teman, bahkan sering menjadi kebanggaan sekolah. Tetapi ketika sang guru bertemu kembali dengannya setelah ia sukses menjadi dokter, ia justru menunjukkan sikap yang dingin, arogan, bahkan tidak ramah. Ia seolah lupa bahwa guru itu pernah menjadi bagian penting dalam perjalanannya.
Berbeda dengan murid kedua yang menjadi pilot. Semasa sekolah, ia tidak menonjol. Biasa saja, nilai tidak spektakuler. Namun ia dikenal rendah hati, suka membantu teman, bahkan rela berutang demi mentraktir temannya yang tidak mampu. Saat akhirnya juga berhasil menjadi pilot, dan bertemu sang guru, sikap yang ia tunjukkan membuat sang guru terharu. Ia menyambut dengan hangat, penuh rasa hormat, dan membuat gurunya menitikkan air mata karena tidak menyangka, anak yang dulu tidak disanjung, justru tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter mulia.
Kisah ini menegaskan: IQ mungkin bisa menjadikan seseorang sukses secara profesi, tetapi EQ dan SQ lah yang membuat kesuksesan itu bermakna dan berharga.
Temperamen Dasar: Cermin Diri yang Perlu Dikenal
Selain IQ, EQ, dan SQ, ada satu hal lagi yang sering dilupakan: temperamen dasar. Dalam psikologi klasik, temperamen dibagi menjadi empat:
Sanguinis: periang, mudah bergaul, penuh semangat.
Kolerik: tegas, ambisius, cenderung menjadi pemimpin.
Melankolis: perfeksionis, teratur, detail, tapi sering terlalu idealis.
Plegmatis: tenang, sabar, mudah menyesuaikan diri.
🅞🅛🅔🅗: 𝙁𝙞𝙖𝙣𝙪𝙨 𝘼𝙧𝙪𝙣𝙜
Reporter: Kaperwil Sultra-Mulyadi Ansan







